Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Wednesday, June 13, 2012

7 Alasan Mengapa Kita Butuh Perencanaan Keuangan

Jakarta - Pada20-30 tahun lalu, masa-masa orang tua kita masih membiayai hidup kita, belum ada yang namanya profesi Financial Planner atau Perencana Keuangan di Indonesia. Tapi 10 tahun belakangan ini profesi ini sudah banyak bermunculan di Indonesia. Dengan berkembangnya gaya hidup yang semakin konsumtif, naiknya inflasi yang membuat kebutuhan hidup dimasa yang akan datang semkin mahal, banyaknya produk-produk investasi yang ditawarkan, dan semakin sadarnya masyarakat akan kesejahteraan hidupnya.

Beberapa alasan mengapa kita membutuhkan sebuah Perencanaan Keuangan :

1. Untuk melindungi diri kita dan keluarga dari risiko keuangan

Dalam siklus hidup tentunya ada masa-masa naik dan turunnya tingkat kehidupan , dan tidak dapat dipungkiri, dimanapun situasi kehidupan kita, pastinya berhubungan dengan uang. Naik turunnya situasi keuangan masih dapat diatasi dengan bantuan seorang profesional. Apa saja masalah-masalah penting dan darurat yang berhubungan dengan keuangan, contohnya adalah : kehilangan pekerjaan, sakit keras, kecelakaan yang menyebabkan cacat, dan kematian kepala keluarga sebagai sumber pendapatan.

2. Untuk melunasi utang

Memang sangat baik jika kita sudah memiliki investasi, baik investasi pada pasar modal, properti, bisnis maupun barang-barang berharga. Namun masih banyak diantara kita yang juga memiliki hutang yang besar, terutama hutang konsumtif. Hal ini sebenarnya sangat penting untuk dicari jalan keluarnya. Sangatlah tidak tepat jika setiap bulan berinvestasi dengan tujuan untuk mengumpulkan aset namun juga menumpuk hutang yang bunganya lebih tinggi dari hasil investasi kita.
Oleh karena itu, menyelesaikan hutang adalah hal yang paling penting didalam sebuah Perencanaan Keuangan yang kita miliki.

3. Untuk biaya membesarkan anak-anak

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu porsi yang cukup besar didalam anggaran rumah tangga adalah biaya untuk membesarkan anak-anak yang dapat berlangsung sekitar 20-25 tahun sebelum anak-anak kita dapat membiayai dirinya sendiri. Biaya ini meliputi sejak anak lahir, hingga biaya pernikahan, namun biaya yang paling besar adalah biaya pendidikan sejak memasuki persiapan sekolah (pre-school) hingga perguruan tinggi. Sebagai ilustrasi, jika biaya kuliah saat ini adalah Rp 50 juta, dengan adanya inflasi maka, dalam 15 tahun biaya tersebut menjadi sekitar Rp 770 juta.

4. Untuk pembelian aset, dari kendaraan hingga rumah

Rumah adalah aset utama yang harus dimiliki oleh seseorang, selain untuk digunakan sebagai tempat tinggal, rumah juga mnjadi sebuat aset yang nilainya bertambah dari waktu kewaktu. Aset kedua yang harus dimiliki adalah kendaraan. Umur kendaraan yang nyaman adalah 5 tahun. Jadi layaknya, setiap 5 tahun kita perlu mengganti kendaraan kita.

Namun tidak semua orang, walaupun sudah memiliki pekerjaan, mampu untuk membeli rumah dan kendaraan karena gaji yang hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari hari sehingga dari tahun ke tahun uang tidak pernah cukup untuk membeli aset.Oleh karena itu diperlukan suatu solusi agar keinginan untuk membeli aset aset dapat tercapai.

5. Untuk membiayai pembelian polis asuransi

Semua aset yang sudah kita kumpulkan adalah untuk memenuhi segala kebutuhan kehidupan keluarga, namun bayangkan jika suatu saat terjadi kecelakaan, sakit atau meninggal, sehingga tidak dapat lagi kita membiayai keluarga kita.Untuk melindungi nilai ekonomis seseorang yang menjadi sumber pendapatan keluarga adalah dengan asuransi. Pertanyaan berikutnya adalah apakah asuransi yang kita miliki nilainya sudah cukup untuk membiayai kehidupan hingga masa depan keluarga yang ditinggalkan dapat terjamin. Berapa sebenarnya nilai asuransi yang harus dimiliki? Apa saja benefit dari asuransi kesehatan yang kita miliki?

6. Untuk bisa menikmati pensiun dengan taraf hidup yang nyaman

Pensiun adalah saatnya kita menikmati masa istirahat dari pekerjaan. Tentunya kita ingin menikmati dengan taraf hidup yang nyaman. Namun dari mana kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai pensiun seperti yang kita inginkan?. Sudah bukan saatnya pada saat pensiun, justru kita masih harus mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kita. Bukan hal yang tepat juga jika kita harus bergantung biaya ke anak-anak kita yang mungkin masih memerlukan biaya-biaya untuk kehidupannya sendiri bahkan untuk keluarganya.Sebagai ilustrasi, jika saat ini umur kita 45 tahun dengan biaya hidup kita adalah Rp 15 juta, maka pada saat kita pensiun diumur 55 tahun maka kita membutuhkan dana sekitar Rp 16 Milyar untuk dapat menikmati pensiun selama 20 tahun.

7. Untuk mewariskan kekayaan kita kepada anak-anak

Jika kita sudah memiliki Perencanaan Keuangan maka segala aset dan kekayaan kita sudah tertata untuk setiap tujuan. Pada akhirnya, jika kita berumur panjang dan memasuki usia pensiun, segala kekayaan yang kita miliki dapat kita wariskan kepada anak-anak. Oleh karena itu menyiapkan wasiat juga menjadi bagian dari sebuah Perencaan, agar generasi berikutnya dapat menikmati dan memelihara kekayaan yang kita wariskan.

Kapan saat yang tepat untuk memulai Perencanaan? Semakin dini memulai sebuah Perencanaan, akan semakin baik, terutama pada saat usia masih produktif. Dengan demikian kondisi keuangan akan menjadi lebih baik dengan jangka waktu investasi yang panjang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Lisa Soemarto, MA, RIFA, RFC-Senior Financial Advisor AFC
@LaPetiteLisa



(qom/qom)

source : http://finance.detik.com/read/2012/01/24/095642/1822850/722/7-alasan-mengapa-kita-butuh-perencanaan-keuangan?
Posted on 6:00 PM / 0 comments / Read More

Lindungi Keluarga Anda dari 3 Hal Ini

Jakarta - Jika ditanya apakah kita ingin melindungi keluarga kita, saya yakin kita akan menjawab 'Ya'. Jika ditanya apakah yang akan kita lakukan untuk melindungi keluarga kita? Maka kita akan menjawab apa yang terbaik yang kita bisa. Bukan begitu?

Sebagai sumber income keluarga kita bekerja untuk menghasilkan income/penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk kebutuhan pokok, kebutuhan sekolah anak, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, namun pertanyaannya bagaimana jika income/penghasilan itu terhenti?

Ada beberapa hal utama yang kita perlu tahu bisa menyebabkan income/penghasilan terhenti, bukan agar kita khawatir tapi sebaliknya kita menjadi aware terhadap hal ini dan mempersiapkan diri dengan lebih baik :
PHK. Perusahaan tempat kita bekerja memiliki hak untuk memberhentikan kita. PHK bisa terjadi pada siapa saja, bahkan orang-orang terbaik di satu perusahaan karena banyak hal yang memicu perusahaan akhirnya mengambil keputusak untuk melakukan PHK. Untuk prosedur seharusnya perusahaan memberikan notifikasi minimal sebulan sebelumnya sebelum hari dimana karyawan diminta berhenti. Namun dalam banyak kasus masih banyak pdrusahaan yang tidak menerapkan aturan ini.
Sakit. Salah satu hal yang kita jaga adalah kesehatan, namun ada saatnya tubuh kita drop / daya tahan tubuh menurun sehingga jatuh sakit entah karena keletihan bekerja, ada masalah/beban pikiran, atau akumulasi dari pola hidup yang tidak sehat. Demam berdarah, tipes, diare, maag, adalah sejumlah penyakit yang sering dialami dan bisa menyebabkan seseorang perlu dirawat atau memerlukan bed rest/istirahat dalam beberapa hari bahkan untuk beberapa kasus bisa sampai beberapa minggu.

Kematian. Semua orang akan meninggal dunia hal ini adalah fakta yang tidak bisa diubah oleh siapapun, sekaya apapun orang tersebut, sebesar apapun kekuasaan yang dimilikinya. Kematian adalah hal yang paling berat dirasakan karena bukan hanya income/penghasilan yang terpengaruh namun kita juga kehilangan sosok orang yang kita kasihi.$0D

Sebagian besar orang yang sudah menyadari hal ini akan melakukan sejumlah persiapan, namun ada juga yang sudah mengetahui namun merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Semua pilihan kembali ke tangan kita masing-masing. Berikut adalah beberapa solusi yang bisa dilakukan:

PHK. Untuk kejadian PHK kita sebagai karwayan, bisa menyiapkan diri dengan selalu meningkatkan skill/keahlian kita sehingga jika hal ini terjadi kita bisa tetap yakin dengan nilai jual/value kita di perusahaan lain dimana kita bisa segera mencari pengganti. Terkait keuangan hal ini bisa diantisiapasi dengan memiliki Dana Darurat yang jumlahnya akan semakin besar dengan semakin banyaknya tanggungan, untuk yang sudah berkeluarga minimal 6 bulan gaji atau pengeluaran, sehingga kita memiliki waktu 6 bulan untuk mencari pekerjaan yang baru.

Sakit. Tentu saja langkah utama yang harus dilakukan adalah menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, mengatur makanan dan olahraga teratur. Namun hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki Asuransi Kesehatan, jika kantor tempat kita bekerja sudah menyiapkan Asuransi Kesehatan dan cukup maka kita tidak perlu membeli Asuransi Kesehatan lagi. Dana Darurat juga menjawab solusi agar jika skenario terburuknya ternyata perusahaan kita sementara memberhentikan gaji selama kita dirawat.

Kematian. Untuk hal ini solusinya sudah pasti adalah kita harus mencari pengganti income/penghasilan yang biasanya ada, lalu menentukan siapa yang bisa melakukan ini. Jika pasangan hidup kita dalam hal ini suami/istri memiliki kesanggupan maka kita tahu bahwa secara nilai ekonomis, keluarga kita tidak harus menderita, namun jika pasangan kita terutama pihak wanita tidak bekerja dan tidak memiliki kompetensi untuk menghasilkan income sebesar yang dulu dihasilkan, maka tugas ini bisa dialihkan ke pihak Asuransi. Asuransi Jiwa yang murni dengan perhitungan yang benar akan dapat meng-cover kebutuhan hidup keluarga, minimal sampai dengan anak terkecil memasuki usia mapan/lulus kuliah.



(qom/qom)

source : http://finance.detik.com/read/2012/02/06/065214/1834720/722/lindungi-keluarga-anda-dari-3-hal-ini?
Posted on 5:56 PM / 0 comments / Read More

Siapkah Anda Pensiun Dini?

Jakarta - Kalau kita sudah aware dan mengerti betapa pentingnya menyiapkan Dana Pensiun, selanjutnya harus bagaimana? Kita perlu mengetahui terlebih dulu beberapa hal penting yang merupakan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menghitung alokasi dana yang perlu disiapkan.

1. Umur berapa ingin pensiun
Pada umumnya usia pensiun di perusahaan adalah pada usia 55 tahun, namun beberapa
perusahaan ada juga yang berbeda. Sehingga sebaiknya tiap orang yang bekerja mengetahui dengan jelas mengenai rencana pensiun di usia berapa. Tidak ada salahnya dengan menginginkan pensiun dini di usia 45 tahun misalnya, semua bisa dicapai jika dipersiapkan dan direncanakan dengan baik.
2. Berapa lama perkiraan masa pensiun
Setelah pensiun, kita perlu mengetahui seberapa lama masa pensiun. Kita bisa memperkirakan atau melihat dari history keluarga, misalnya seseorang memiliki kakek dan nenek yang meninggalnya di usia 70an. Maka bisa diperkirakan masa pensiunnya 15 tahun ( 70 tahun – 55 tahun). Hal ini perlu diketahui karena berarti kita akan mempersiapkan dana yang akan bisa bertahan atau mencukupi biaya hidup selama masa pensiun, jangan sampai sebelum masa pensiun dana-nya sudah habis.

3. Berapa kebutuhan hidup yang diinginkan saat masa pensiun
Saat ini kita mengetahui dengan jelas berapa jumlah kebutuhan hidup kita atau pengeluaran bulanan. Sehingga bisa diprediksi kira-kira pada saat nanti di masa pensiun, apakah kebutuhan hidup itu tetap 100%, atau malah berkurang hanya 50%, karena misalnya sudah tidak ada tanggungan anak dan berkurangnya tagihan-tagihan rumah tangga karena anak sudah menikah dan memiliki rumah sendiri.

Dengan mengetahui 3 hal penting diatas, maka sebenarnya kita sudah hampir setengah jalan mewujudkan perencanaan Dana Pensiun kita. Selanjutnya dengan kalkulasi yang benar maka akan didapatkan nilai tunai yang harus ada selama masa pensiun, berapa lama waktu untuk mempersiapkan nilai tunai tersebut, dan berapa jumlah investasi yang perlu dialokasikan tiap bulan atau tiap tahun.

Seperti pepatah mengatakan “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian” yang artinya “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Terkait dengan Dana Pensiun, kita sebenarnya tidak perlu ‘bersakit-sakit’ menyisihkan penghasilan kita saat ini untuk mempersiapkan Dana Pensiun, karena semakin dini kita mempersiapkan alokasi dana ini, semakin kecil jumlah yang dibutuhkan.

Misalnya jika Anda berusia 25 tahun, ingin pensiun di usia 55 tahun, dengan masa hidup 10 tahun (sampai dengan usia 65 tahun), dengan kebutuhan hidup 80% dari Rp. 5.000.000 (kebutuhan hidup saat ini) maka dengan menyisihkan Rp 800.000 di investasi yang memberikan asumsi return 25% selama 30 tahun (55 tahun -25 tahun) anda dapat memenuhi kebutuhan dana pensiun yang dibutuhkan nanti.

Jadi..Siapkan Dana Pensiun anda sedini mungkin!

Yosephine P. Tyas S.Kom, MM, RFA® - Senior Associate Advisor

Berapa lama perkiraan masa pensiun.
Setelah pensiun, kita perlu mengetahui seberapa lama masa pensiun. Kita bisa memperkirakan atau melihat dari history keluarga, misalnya seseorang memiliki kakek dan nenek yang meninggalnya di usia 70an. Maka bisa diperkirakan masa pensiunnya 15 tahun ( 70 tahun – 55 tahun). Hal ini perlu diketahui karena berarti kita akan mempersiapkan dana yang akan bisa bertahan atau mencukupi biaya hidup selama masa pensiun, jangan sampai sebelum masa pensiun dana-nya sudah habis.

Berapa kebutuhan hidup yang diinginkan saat masa pensiun.
Saat ini kita mengetahui dengan jelas berapa jumlah kebutuhan hidup kita atau pengeluaran bulanan. Sehingga bisa diprediksi kira-kira pada saat nanti di masa pensiun, apakah kebutuhan hidup itu tetap 100%, atau malah berkurang hanya 50%, karena misalnya sudah tidak ada tanggungan anak dan berkurangnya tagihan-tagihan rumah tangga karena anak sudah menikah dan memiliki rumah sendiri.

Dengan mengetahui 3 hal penting diatas, maka sebenarnya kita sudah hampir setengah jalan mewujudkan perencanaan Dana Pensiun kita. Selanjutnya dengan kalkulasi yang benar maka akan didapatkan nilai tunai yang harus ada selama masa pensiun, berapa lama waktu untuk mempersiapkan nilai tunai tersebut, dan berapa jumlah investasi yang perlu dialokasikan tiap bulan atau tiap tahun.

Seperti pepatah mengatakan “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian” yang artinya “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Terkait dengan Dana Pensiun, kita sebenarnya tidak perlu ‘bersakit-sakit’ menyisihkan penghasilan kita saat ini untuk mempersiapkan Dana Pensiun, karena semakin dini kita mempersiapkan alokasi dana ini, semakin kecil jumlah yang dibutuhkan.

Misalnya jika Anda berusia 25 tahun, ingin pensiun di usia 55 tahun, dengan masa hidup 10 tahun (sampai dengan usia 65 tahun), dengan kebutuhan hidup 80% dari Rp. 5.000.000 (kebutuhan hidup saat ini) maka dengan menyisihkan Rp 800.000 di investasi yang memberikan asumsi return 25% selama 30 tahun (55 tahun -25 tahun) anda dapat memenuhi kebutuhan dana pensiun yang dibutuhkan nanti.

Jadi..Siapkan Dana Pensiun anda sedini mungkin!

Yosephine P. Tyas S.Kom, MM, RFA® - Senior Associate Adviso

(ang/ang)

source : http://finance.detik.com/read/2012/02/27/083511/1852063/722/siapkah-anda-pensiun-dini?


Jika Anda Ingin Pensiun Dini ?
Segera Hubungi : 087859298777 Chandra Aditya
Office : Jl. Ijen No. 79 Malang - Jawa Timur
Posted on 5:52 PM / 0 comments / Read More

Monday, May 21, 2012

Facebook stock plummets on second day of trading

After Facebook stock narrowly stayed above the initial public offering price during its first day of trading, the price fell hard and fast Monday, knocking more than 10 percent off the company's record-breaking initial valuation.

Facebook executed its highly anticipated IPO Thursday evening, pricing shares at $38 for total proceeds of $16 billion at a record valuation of $104 billion. Predictions of a big first-day increase in the stock price were rampant, but they fizzled Friday, as shares opened at $42 and almost immediately fell, staying below that mark for the rest of the session.

Shares finished Friday at $38.23, 0.6 percent higher than the price
investors paid for IPO stock. Friday reports said the banks that underwrote Facebook's IPO stepped in to buy stock when shares dipped near $38 on the first day of trading in order to ensure the stock closed above that level.

Without the help of the IPO underwriters, Facebook shares opened Monday at $36.53, but that price immediately dropped to below $36; in the first 30 minutes of trading, shares sold for as low as $33, a decrease of 13.7 percent from Friday's closing price. Facebook stock closed at $34.03, 11 percent off Friday's closing price and more than 10 percent lower than the price investors paid for IPO shares.

Confounding those bullish on Facebook stock even more was Wall Street's overall strength Monday: All three
Advertisement
major U.S. stock indexes rose at least 1.1 percent, led by the tech-heavy Nasdaq composite index at 2.5 percent.

Other social media stocks were mixed Monday after steep falls at the end of last week. LinkedIn, Yelp and Zynga all plunged for the third consecutive day early in Monday's session, but Yelp bounced back from its lowest closing price ever with a solid gain of 3.5 percent. Mountain View professional-networking site LinkedIn experienced an up-and-down trading day, falling by as much as 6.8 percent and rising by as much as 1.4 percent; at the close, it had declined 2.2 percent.

Facebook partner Zynga had a horrible day Friday, when trading had to be halted twice due to sharp drops and the stock closed at all-time low of $7.16. The stock reached an all-time intraday low of $6.36 Monday morning after a sudden decrease of 11.2 percent, but the San Francisco social-gaming company's shares bounced back to close at $7.09, a decrease of 1 percent.

Facebook was founded in a Harvard dorm room by CEO Mark Zuckerberg and college classmates in 2004, and has grown to 900 million users in just nine years. However, analysts and investors are concerned that its popularity may not lead to strong revenues, as the company had only $3.7 billion in sales last year and has struggled to determine how to monetize its popularity on mobile devices.

"Investors are increasingly aware of the risk embedded in the stock price. There are real concerns about growth and advertisers' frequent lack of certainty how best to use Facebook, along with rising costs and ongoing acquisition risk," Pivotal Research Group Brian Wieser told Reuters. Wieser has a $30 price target on the stock.

Mark Siegel, an investor with Menlo Ventures, said that Facebook's failure to obtain a big initial pop in the stock price was a good thing for the company's long-term goals, however.

"I'm kind of glad there wasn't a big pop. Had this thing traded up 50 percent, it would just make the bar that much higher in terms of what the company has to deliver in revenues to avoid disappointing investors," he said.


source : http://www.mercurynews.com/business/ci_20672057/facebook-stock-sinks-below-ipo-price
Posted on 5:20 PM / 1 comments / Read More

Sunday, November 6, 2011

What caused the financial crisis? The Big Lie goes viral

I have a fairly simple approach to investing: Start with data and objective evidence to determine the dominant elements driving the market action right now. Figure out what objective reality is beneath all of the noise. Use that information to try to make intelligent investing decisions.

But then, I’m an investor focused on preserving capital and managing risk. I’m not out to win the next election or drive the debate. For those who are, facts and data matter much less than a narrative that supports their interests.

One group has been especially vocal about shaping a new narrative of the credit crisis and economic collapse: those whose bad judgment and failed philosophy helped cause the crisis.

Rather than admit the error of their ways — Repent! — these people are engaged in an active campaign to rewrite history. They are not, of course, exonerated in doing so. And beyond that, they damage the process of repairing what was broken. They muddy the waters when it comes to holding guilty parties responsible. They prevent measures from being put into place to prevent another crisis.

Here is the surprising takeaway: They are winning. Thanks to the endless repetition of the Big Lie.

A Big Lie is so colossal that no one would believe that someone could have the impudence to distort the truth so infamously. There are many examples: Claims that Earth is not warming, or that evolution is not the best thesis we have for how humans developed. Those opposed to stimulus spending have gone so far as to claim that the infrastructure of the United States is just fine, Grade A (not D, as the we discussed last month), and needs little repair.

Wall Street has its own version: Its Big Lie is that banks and investment houses are merely victims of the crash. You see, the entire boom and bust was caused by misguided government policies. It was not irresponsible lending or derivative or excess leverage or misguided compensation packages, but rather long-standing housing policies that were at fault.

Indeed, the arguments these folks make fail to withstand even casual scrutiny. But that has not stopped people who should know better from repeating them.

The Big Lie made a surprise appearance Tuesday when New York Mayor Michael Bloomberg, responding to a question about Occupy Wall Street, stunned observers by exonerating Wall Street: “It was not the banks that created the mortgage crisis. It was, plain and simple, Congress who forced everybody to go and give mortgages to people who were on the cusp.”

What made his comments so stunning is that he built Bloomberg Data Services on the notion that data are what matter most to investors. The terminals are found on nearly 400,000 trading desks around the world, at a cost of $1,500 a month. (Do the math — that’s over half a billion dollars a month.) Perhaps the fact that Wall Street was the source of his vast wealth biased him. But the key principle of the business that made the mayor a billionaire is that fund managers, economists, researchers and traders should ignore the squishy narrative and, instead, focus on facts. Yet he ignored his own principles to repeat statements he should have known were false.
Posted on 10:37 AM / 0 comments / Read More
 
Copyright © 2013. Candra Aditya . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Candra . SEO by Candra